Postingan

Indahnya Keluarga Itu Bersama Al Qur'an

Dari grup WhatsApp :) Mari kita baca kisah yg sangat menginspirasi bagi kita sebagai orang tua yang sangat menginginkan anaknya menjadi para ahli Quran 💐💐💐 ✨ *"Kisah keluarga Ummi Ruli, Membumikan Al-Qur'an Dalam Keluarga Rabbani"* ✨ Assalamualaykum. Wr. Wb. Segala puji bagi Alloh yang telah memberikan nikmat berta'amul ma'al Qur'an kepada kita semua. Sholawat dan salam semoga tetap terlimpahkan kepada  junjungan kita Rosululloh SAW, beserta keluarga, sahabat dan umat Islam yg istiqomah di jalan-Nya. Bahagia sekali bisa berjumpa dengan para Sahabat HSR di sini. Kulwap ini saya tulis berdasarkan pengalaman pribadi, yang sangat jauh dari teori ideal yang seharusnya kita contoh dari  *Rosululloh SAW* . Seharusnya membumikan Al-Qur'an kita lakukan *Sebelum anak-anak ada* - Istiqomah - Sampai kita kembali kepada-Nya. Tetapi karena kelalaian dan banyaknya dosa-dosa saya, hal itu belum mampu saya lakukan. Hanya sebatas menggugurkan kewajiban terh...

Tentang Penyesalan

Andaikan masih jauh...  Andaikan yang baru...  Andaikan semuanya...  3 Kalimat pendek yang terucap dari lisan sahabat yang mulia. Disebutkan dalam riwayat bernama Sya'ban r.a. kalimat pendek itu terucap saat menjelang akhir hayatnya. Sakaratul maut tepatnya.  Kenapa? Ada apa? Apa maksudnya?  Tak seorangpun mengetahui maknanya hatta istrinya sendiri, hingga kemudian Rasulullah صلى الله عليه وسلم datang berkunjung dan bertanya tentang kondisi sahabatnya ini. Tatkala diceritakan tentang 3 kalimat pendek tersebut barulah kemudian Rasulullah menjelaskan. Andaikan masih jauh... Bahwa ia, Sya'ban r.a selalu mendatangi masjid untuk sholat jama'ah yang mana jarak yang harus ditempuh baginya sekitar 3 jam perjalanan, Masya Allah. Jarak yang jauh itu harus ia tempuh untuk bisa sholat jama'ah bersama Rasulullah. Maka ketika sakaratul maut, Allah tampakkan semua episode perjalanan ia ke masjid juga pahala yang ia peroleh darinya. Maka melihat hal itu, ter...

Awwalussanah | babak baru

Cukup padat dan menguras energi acara sehari ini. Bahkan H-14 segala bentuk persiapan mulai didadakan. Awwalussanah, sebuah agenda tahunan di awal tahun ajaran. Ia menjadi start awal bagi adik-adik baru santri pondok dalam sebuah episode perjalan menuntut ilmu. Mondok. Satu kata yang mungkin banyak orang menganggap sesuatu yang sudah tidak relevan dengan zamannya. Terkesan kolot lah, ketinggalan zaman lah, kotor, kumuh, ustadz yang galak, aturan yang padat, dan serba-serbi negatif banyak dialamatkan untuk aktivitas yang disebut mondok ini. Namun, seiring dengan bergantinya zaman. Ditengah kacau dan rusaknya moral pergaulan zaman sekarang, pada akhirnya mondok menjadi salah satu opsi pilihan pendidikan orang tua untuk anak-anak mereka. Bahkan menjadi idaman banyak kalangan. Sekali lagi tradisi mondok tak akan pernah hilang dari wajah pendidikan islam terutama di nusantara tercinta. Jadi kisahnya. Hari ini PPIT Al Hikmah Boyolali, tempat dimana dulu aku pelajar dan sekarang m...

Muda Berani

Saya ada seorang teman dikelas. Masih muda, 2 tahun dibawah saya. Tapi hari ini ia sudah melewati kurang lebih 2 tahun pula masa pernikahannya dan alhamdulillah ia sudah dikaruniai seorang anak perempuan yang lucu juga unyu hihi, dan kalo ngga salah sudah mau menginjak 1 tahun ini si debay-nya. Saya kalo ketemu dia yang jadi bahan obrolan ga jauh² dari soal keluarga dan manajemen diri. Soalnya saya pengen banyak belajar dari dia soal yang satu ini. Alkisah dia adalah putra bungsu di keluarganya. Keluarga yang sederhana. Dia bukan selebgram, artis, atau macam influencer² dunia maya yang kita kenal, bukan. Nah, Selepas lulus dari MA di sebuah pondok pesantren islam terpadu, seperti anak pada umumnya ia mencoba daftar ke salah satu PTN islam di kotanya. Ga lama dia belajar di kampus, entah ga betah karena apa, dia keluar dan memutuskan berhenti kuliah. Belum ada satu semester kalo ga salah. Akhirnya ia kemudian mulai buka usaha jualan martabak. Singkat cerita dari aktifitas jua...

Impian dan Palestina || sebuah kisah

Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah. Disore tanggal 16/4, saya berkesempatan mengikuti kajian Palestina. Beruntung yang mengisi sesi dalam acara tersebut salah satunya adalah Muhammad Husein Gaza, seorang aktivis kemanusiaan Indonesia yang telah tinggal lama dan berjuang langsung bersama saudara² kita di Palestina. Ini memang momen yang saya nantikan sudah lama. Bermula dari follow akun Instagram beliau, dimana konten yang mendominasi adalah isu tentang Palestina. Dari sini saya merasa tergerak untuk bisa langsung berjumpa. Nah, ketika mengetahui kabar kepulangan beliau ke Indonesia, saya berharap untuk bisa hadir atau bahkan mengundang beliau mengisi kajian Palestina. Sehingga saya bisa bertemu langsung dan bahkan ngobrol lebih banyak tentang diri beliau dan Palestina. Mulailah saya ngode² beliau lewat DM saat liat story-nya, atau komen beberapa postingan-nya, bahkan saya melobi seorang teman yang kebetulan menjadi salah satu pengurus remaja masjid agung disalah satu kota. Sampai s...

Anjuran Yang Terabaikan

Sudah menjadi hal yang biasa ketika ada seorang ingin menyampaikan sebuah pidato, khutbah, kajian, presentasi, atau semisalnya, ia mengawali semua materi yang ingin dipaparkan dengan terlebih dahulu memberikan muqoddimah. Ya, kalimat pembuka yang berisi anjuran syukur kepada Allah 'azza wa jalla yang dilanjutkan dengan bersholawat kepada baginda mulia Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Dan sering pula kita ketika mendengar muqoddimah ini kadang kurang perhatian atau pura² tak mendengarkan. Mungkin beranggapan ini bukan hal terlalu penting dan sudah menjadi kebiasaan hanya untuk formalitas belaka. Padahal pernahkah kita berfikir tentang kenapa seringnya kita diingatkan tentang hal ini (syukur)? Let's see. Kita pasti ingat kapan terakhir kali kita opname di RS, detail sekali kita mengingatnya. Tanggal, jam, lokasi kita ingat semua. Kita mungkin juga ingat betul kapan kita jatuh dari motor, kecelakaan misalnya. Tapi disebalik itu semua ingatkah kita akan nikmat sehat...

Momentum dari Rembang

Sekitar dua minggu yang lalu, aku mendapat momentum yang luar biasa. Lebih tepatnya aku mengambil momentum itu. Ya, mengambil bukan mempersilahkan apalagi diberi momentum itu. Karena betapa banyak kesempatan atau momentum luar biasa yang berseliweran di hidup kita yang sering terlewat begitu saja atau kita persilahkan berlalu. Tanpa kita sadar dan berinisiatif untuk mengambilnya, maka sedetik berlalu momentum itu akan hilang bahkan bisa jadi akan direbut oleh orang lain dan menjadi miliknya. Akhirnya kita kehilangan kesempatan emas untuk bebenah jadi lebih baik lagi bahkan kehilangan kesempatan untuk menjadi juara. Ibarat seorang atlit tinju yang tengah berlaga. Ia melihat ada momentum, ada kesempatan emas untuk memukul jatuh lawannya hingga KO, ia yakin itu. Kemudian ia manfaatkan kesempatan itu, lalu meluncurlah pukulan keras tepat di titik terlemah dari lawannya dan akhirnya ialah sang juara. Ada lagi seorang pembalap di putaran terakhirnya masih berada di posisi ke dua. Namun ...